Personel Kodim 0718/Pati Terima Penyuluhan Bahaya Difteri

PATI NEWS METRO.CO – Bertempat di Aula Suluh bakti Makodim 0718/Pati, telah diselenggarakan penyuluhan kesehatan pencegahan penyakit difteri kepada Prajurit, PNS, dan Persit KCK Cab XXXIX serta Satdisjan jajaran Kodim 0718/Pati, Senin (5/3/2018).

Dandim 0718 Pati / Letkol Inf Arif Darmawan menjelaskan, dengan adanya kegiatan penyuluhan kesehatan sosialisasi imuniasi difteri diharapkan baik anggota Kodim 0718/Pati dan Persit KCK memahami tentang bahaya maupun pencegahan penyakit difteri.

“Dengan tujuan penyuluhan kesehatan yang disampaikan oleh Dokter Eko tentang sosialisasi imunisasi difteri ini, agar anggota dan persit KCK dapat memahami tentang penyakit difteri,” jelas Dandim.

Sementara itu, Doktor Eko narasumber sosialisasi penyakit difteri menjelaskan, bahaya penyakit difteri ini rentan terjadi pada anak-anak yang iminisasinya tidak lengkap. “Karena yang berisiko dengan penyakit difteri ini adalah anak-anak yang imunisasi tidak lengkap, dan anak-anak yang di bawah 7 tahun, karena dasar imunisasi difteri ini sebanyak 7 kali,” ungkapnya.

Lebih lanjut, kegiatan sosialisasi tersebut mengajak semua unsur masyarakat untuk mengerti bahaya penyakit difteri baik dari pencegahan maupun anitisipasi supaya tidak terkena penyakit difteri. Pengertian Difteri adalah infeksi bakteri yang bersumber dari Corynebacterium diphtheriae, yang biasanya mempengaruhi selaput lendir dan tenggorokan.
Difteri umumnya menyebabkan sakit tenggorokan, demam, kelenjar tonsil (amandel) bengkak, dan lemas. Dalam tahap lanjut,

difteri bisa menyebabkan kerusakan pada jantung, ginjal dan sistem saraf. Kondisi seperti itu pada akhirnya bisa berakibat sangat fatal dan berujung pada kematian. Karena bakteri mengeluarkan racun yang mengganggu fungsi organ-organ yang mengalami kerusakan tersebut. Manusia yang kurang memilki sistem kekebalan tubuh terutama yang tidak mendapatkan suntikan imunisasi lengkap saat masih kecil atau kanak-kanak mudah terserang bakteri ini.

Tanda dan gejala difteri meliputi, sakit tenggorokan dan suara serak, nyeri saat menelan, pembengkakan kelenjar (kelenjar getah bening membesar) di leher, dan terbentuknya sebuah membran tebal abu-abu menutupi tenggorokan dan amandel, sulit bernapas atau napas cepat, demam, dan menggigil.

Tanda dan gejala biasanya mulai muncul 2-5 hari setelah seseorang menjadi terinfeksi. Orang yang terinfeksi C. Diphtheria seringkali tidak merasakan sesuatu atau tidak ada tanda-tanda dan gejala sama sekali. Orang yang terinfeksi namun tidak menyadarinya dikenal sebagai carier (pembawa) difteri. Sumber penularan penyakit difteri ini adalah manusia, baik sebagai penderita maupun sebagai carier.
Tipe kedua dari difteri dapat mempengaruhi kulit, menyebabkan nyeri kemerahan, dan bengkak yang khas terkait dengan infeksi bakteri kulit lainnya. Sementara itu pada kasus yang jarang, infeksi difteri juga mempengaruhi mata.

Tanda dan gejala cara Penularan Bakteri C.diphtheriae dapat menyebar melalui tiga rute, yaitu bersin, Kontaminasi barang pribadi, Barang rumah tangga, menyentuh luka orang yang sudah terinfeksi.

Penanganan Difteri adalah penyakit yang serius. Para ahli di Mayo Clinic, memaparkan, ada beberapa upaya pengobatan yang dapat dilakukan diantaranya: Pemberian antitoksin: Setelah dokter memastikan diagnosa awal difteri, anak yang terinfeksi atau orang dewasa harus menerima suatu antitoksin. Antitoksin itu disuntikkan ke pembuluh darah atau otot untuk menetralkan toksin difteri yang sudah terkontaminasi dalam tubuh.

Antibiotik: Difteri juga dapat diobati dengan antibiotik, seperti penisilin atau eritromisin. Antibiotik membantu membunuh bakteri di dalam tubuh dan membersihkan infeksi. Anak-anak dan orang dewasa yang telah terinfeksi difteri dianjurkan untuk menjalani perawatan di rumah sakit untuk perawatan. Mereka mungkin akan diisolasi di unit perawatan intensif karena difteri dapat menyebar dengan mudah ke orang sekitar terutama yang tidak mendapatkan imunisasi penyakit ini.

Difteri adalah penyakit yang umum pada anak-anak. Penyakit ini tidak hanya dapat diobati tetapi juga dapat dicegah dengan vaksin. Vaksin difteri biasanya dikombinasikan dengan vaksin untuk tetanus dan pertusis, yang dikenal sebagai vaksin difteri, tetanus dan pertusis (DTP).Versi terbaru dari vaksin ini dikenal sebagai vaksin DTP untuk anak-anak dan vaksin Tdap untuk remaja dan dewasa. Pemberian vaksinasi sudah dapat dilakukan saat masih bayi dengan lima tahapan yakni, 2 bulan, 4 bulan, 6 bulan, 12-18 bulan dan 4-6 tahun.

Vaksin difteri sangat efektif untuk mencegah difteri. Tapi pada beberapa anak mungkin akan mengalami efek samping seperti demam, rewel, mengantuk atau nyeri pasca pemberian vaksin. Pemberian vaksin DTP pada anak jarang menyebabkan komplikasi serius, seperti reaksi alergi (gatal-gatal atau ruam berkembang hanya dalam beberapa menit pasca injeksi), kejang atau shock.

Untuk beberapa anak dengan gangguan otak progresif – tidak dapat menerima vaksin DTP.
Imunisasi DPT adalah upaya untuk mendapatkan kekebalan terhadap penyakit Diferi, Pertusis, Tetanus dengan cara memasukkan kuman difteri, pertusis, tetanus yang telah dilemahkan dan dimatikan kedalam tubuh sehingga tubuh dapat menghasilkan zat anti yang pada saatnya nanti digunakan tubuh untuk melawan kuman atau bibit ketiga penyakit tersebut.
Salah satu upaya agar anak-anak jangan sampai menderita suatu penyakit adalah dengan jalan memberikan imunisasi.

Dengan imunisasi ini tubuh akan membuat zat anti dalam jumlah banyak, sehingga anak tersebut kebal terhadap penyakit. Jadi tujuan imunisasi DPT adalah membuat anak kebal terhadap penyakit Difteri, Pertusis, Tetanus. (tim NM/Pati).

Facebook Comments
50 DIBACA 1 HARI INI

Redaksi

NEWSMETRO

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: