Bocah SD Dipekerjakan di Home Industri Sarang Burung Walet

Kabupaten Tangerang News Metro Online
            Bisnis sarang burung walet memang cukup menggiurkan, banyak pengusaha yang melirik dan menjadi pengusaha sarang burung walet, sampai rumah tinggalpun mereka jadikan tempat usaha sarang burung walet.
            Desa Gelam Kecamatan Pasar Kemis Kabupaten Tangerang Banten, usaha sarang burung walet dijadikan home industri dirumah tinggal, pekerjanya merekrut masyarakat setempat dan sekitarnya dengan tidak lagi mengindahkan kepada undang-undang tentang ketenaga kerjaan, bahkan pekerjanya rata-rata dibawah umur masih seusia sekolah dasar.
          Hal ini elas ini melanggar aturan dalam perudang-undangan ketenaga kerjaan dan undang-undang Mendiknas tentang wajib belajar 9 tahun.  Tidak jarang terjadi tindakan kekerasan terhadap karyawan tersebut.
           Agar terhindar dari pantauan Pemerintah Daerah, apabila tercium akan datang pemeriksaan dari intansi terkait, mereka semua yang masih dibawah umur disuruh pulang oleh pihak pengusaha.
            Hal ini dikeluhkan juga oleh masyarakat setempat, adanya usaha sarang burung walet di daerahnya, setiap pagi ramai seperti pasar, sehingga mengganggu lalulintas,”kami cuma kebagian bising dan sampahnya saja, kami merasa terganggu dengan adanya usaha tersebut,” cetus seorang warga yang tidak mau menyebutkan namanya.
            Salah seorang staf pengusaha sarang burung walet yang dikonfirmasi oleh tim News Metro menjelaskan, “usaha kita sudah lama berjalan, bahkan dari intansi pemerintah seperti pihak kelurahan, dinas tenaga kerja dan intansi terkait sudah tau keberadaan usaha ini, jadi tidak ada masalah. Dan Kalau masalah yang lain saya tidak tau.” Ujarnya.
            Tim mendatangi salah satu karyawan yang masih dibawah umur sebut saja (Nina) bukan nama asli-red, yang baru berusia 14 tahun. Nina Menerangkan kepada tim bahwa gaji yang diterimanya 200 rb seminggu, sudah termasuk lembur yang dipaksakan oleh pengusaha. Untuk kesejahtraan lainya tidak ada, seperti Jamsostek dan jam kerja tidak menentu, istirahatpun tidak boleh keluar, paparnya dengan lesu. Sebenarnya saya pengen berhenti, lanjut Nina , dan melanjutkan sekolah ke SMP, tapi  orang tua saya tidak ada biaya dan terpaksa saya kerja disini untuk membantu orang tua
            Hal yang sama dituturkan oleh karyawan yang seusianya dihalaman seusai kerja, saya bekerja sudah 2 tahun, upah yang saya terima masih kecil yaitu dibawah UMR, kesejahtraan yang lain tidak ada.
          Jelas Dari hasil penelusuran Tim News Metro, diduga ada kerja sama antara pihak pengusaha dengan intansi terkait, terbukti dari adanya pelanggaran Undang-undang No.13 Tahun 2003 tentang ketenaga kerjaan  Nomor KEP.235/MEN/03  Pasal 2 ayat 1 yang berbunyi “Anak dibawah usia 18 tahun dilarang bekerja dan/atau dipekerjakan pada pekerjaan yang membahayakan kesehatan, keselamatan atau moral anak. Ayat 2 dan ayat 3 cukup jelas pasal 4 pengusaha dilarang mempekerjakan anak untuk bekerja lembur . Pasal 3 cukup jelas  UU Nomor 13 tahun 2003. UU Nomor 3 tahun 1992 tentang Jamsostek secara wajib bagi pengusaha dan hak para pekerja untuk diikut sertakan. Dalam pelaksanaanya dituangkan dalam peraturan pemerintah No 14 tahun 1993 Kepres No 22 tahun 1993 dan peraturan Mentri Tenaga Kerja No Per. 05/MEN/1993. Namun nampaknya Peraturan yang sudah berlaku sejak masa orde lama itu diabaikan oleh perusahaan tersebut. (Tim News Metro/Mey)
Facebook Comments
36 DIBACA 1 HARI INI

Redaksi

ADMIN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: